Jakarta, Masalah yang terjadi di atas ranjang belum
tentu dapat diselesaikan dengan komunikasi atau bantuan alat tertentu
saja. Terkadang jasa terapis seks juga diperlukan. Namun mungkin tak
banyak pasutri yang tahu masalah 'ranjang' apa saja yang perlu mereka
bawa ke terapis.
Untuk lebih jelasnya, simak tujuh masalah
ranjang yang kerap dialami pasutri dan dapat diatasi dengan bantuan
terapi menurut rekomendasi para pakar, seperti dilansir Woman's Day,
Selasa (15/10/2013) berikut ini:
1. Libido rendah"Hasrat
bercinta/libido yang rendah atau Hypoactive Sexual Desire Disorder
merupakan masalah seksual yang paling sering dibawa ke terapis. kondisi
ini lebih sering dialami oleh wanita, meski tak menutup kemungkinan bagi
pria untuk mengalami hal serupa," ungkap Stephen Betchen, DSW, salah
seorang terapis bersertifikat.
Namun penulis buku Magnetic
Partners itu juga menekankan sebenarnya kondisi ini sulit disembuhkan,
kecuali jika penyebabnya sudah diketahui.
Selain masalah
kesehatan, mulai dari ketidakseimbangan hormon, hipotiroidisme, tumor
pada kelenjar pituitari, dialisis ginjal serta konsumsi antidepresan
maupun stimulan, rendahnya hasrat seks juga bisa disebabkan oleh alasan
psikologis dan emosional. Jika penyebabnya sudah diketahui, kondisinya
pun lebih mudah disembuhkan.
2. Gairah seks yang tak seimbang
Mungkin Anda ingin berhubungan intim setiap malam, tapi suami merasa
beberapa kali dalam sebulan saja sudah cukup. "Sejauh ini alasan lain
yang kerap mendorong pasutri untuk menjalani terapi seks adalah
perbedaan semacam ini, dimana salah satu pihak ingin lebih banyak
bercinta," tandas Miriam Bellamy, LMFT, seorang terapis keluarga dan
pernikahan dari Roswell, Georgia.
Untuk itu hal pertama yang
dilakukan Bellamy adalah membantu pasiennya memahami bahwa normal-normal
saja jika Anda punya pandangan berbeda tentang jumlah hubungan intim
atau jenis seks yang mereka inginkan. Dan konflik di seputar hal ini
bukan karena mereka terlalu berbeda tapi justru karena terlalu dekat.
"Obatnya,
terutama bagi pasangan yang menghabiskan banyak waktu bersama adalah
saling menjauh sebentar untuk menemukan keseimbangan emosi dan
obyektivitas. Misalnya dengan sesekali hangout bersama teman tanpa
suami, ini akan membantu gairah Anda tumbuh kembali," kata Bellamy.
3. Pasangan main belakangKetika
salah satu pasangan berselingkuh, banyak pernikahan yang berakhir pada
perceraian. Tapi bagi pasutri yang memutuskan untuk memaafkan serta
mencoba memperbaiki hubungan akan memperoleh manfaat
nyata dengan terapi seks, karena ini membantu membangun kembali rasa percaya pada pasangan.
Faktanya, banyak terapis yang mengaku perselingkuhan ini adalah alasan teratas pasutri mencari jasa terapis seks.
"Untuk
memperbaiki hubungan, pasangan yang selingkuh harus berhenti
melakukannya dan mengungkap detail berbagai rahasia yang mereka miliki,
misalnya password komputer dan ponsel sehingga pasangan bisa mengecek
keduanya kapanpun mereka mau. Ini diperlukan karena pasangan merasa
dikhianati dan tak bisa mudah percaya lagi. Butuh waktu dan keterbukaan
untuk memunculkan rasa percaya itu lagi," tutur Barbara Bartlik, MD,
psikiater dan terapis seks dari New York City
4. Konflik setelah adanya anakAnak adalah
penguat ikatan kedua orang tuanya, tapi banyak juga pasangan yang
mengeluh keberadaan anak juga telah menghancurkan kehidupan seks mereka.
"Bagi
wanita, perubahan kadar hormon (akibat melahirkan) sering menurunkan
gairah seks mereka, apalagi jika mereka mengasuh anak. Wanita juga
mengalami perubahan bentuk tubuh yang membuat mereka tak nyaman
bercinta. Dan meski kebanyakan pria tetap tertarik pada istrinya,
bagaimanapun bentuk tubuhnya, nyatanya ada juga yang terpengaruh dengan
perubahan bentuk tubuh pasangannya," ujar Scott
Haltzman, MD, psikiater dari Rhode Island.
Menurut
penulis buku The Secrets of Happily Married Men and The Secrets of
Happily Married Women tersebut, kondisi ini dapat diatasi dengan terapi
seks yang membantu membangun kembali koneksi antarpasangan. Jika tidak,
untuk pemula alias orangtua baru, Dr Haltzman menyarankan agar mengunci
pintu kamar sehingga Anda tak selalu merasa cemas jika tahu-tahu si
kecil masuk kamar atau meminta bantuan seseorang untuk mengasuh anak
setiap satu minggu sekali agar Anda bisa berduaan.
5. Susah orgasmeDebby
Herbenick, PhD, dari Indiana University dan penulis buku Because It
Feels Good mengatakan kebanyakan wanita datang ke terapis seks untuk
mengatasi kesulitannya mencapai orgasme.
"Terapis seks biasanya
memberi mereka informasi tentang tubuh wanita sendiri, terutama
klitoris. Pasalnya tak banyak wanita yang tahu tentang klitoris itu
sendiri dan bagaimana mudahnya bagian tubuh ini dirangsang dengan posisi
seks tertentu, misalnya," terang Dr Herbenick
6. Rasa nyeri saat penetrasiYang pertama
didatangi pasutri untuk mengatasi hal ini tentunya adalah dokter. Namun
banyak juga dokter yang menyarankan pasiennya untuk menemui terapis seks
agar nyerinya bisa mereda.
"Terkadang penyebabnya adalah kondisi
medis seperti vulvodynia and lichen sclerosus tapi bisa juga karena
perilaku tertentu. Dengan mengetahui penyebabnya, terapis seks dapat
memberikan saran seperti foreplay lebih lama karena aktivitas ini dapat
meningkatkan lubrikasi vagina dan memperbesar lubang vagina agar dapat
mengakomodasi penis pasangan; menggunakan pelicin; atau mencoba posisi
seks tertentu seperti woman on top yang memberi wanita kendali utama
saat berhubungan," saran Dr. Herbenick.
Terapis seks juga bisa
membantu pasutri untuk memperbaiki komunikasi, terutama dalam
mengkomunikasikan bagaimana rasa nyeri saat penetrasi dapat mempengaruhi
hubungan mereka. Termasuk memberi solusi, misalnya mendorong pasangan
mempertimbangkan variasi dalam bercinta, seperti posisi seks atau
penggunaan mainan seks.
7. Konsumsi pornografi dan kecanduan seksualKecanduan
seks ada beragam, misalnya kecanduan pada pornografi, seks virtual di
komputer, masturbasi dan hal-hal lain yang dapat menghancurkan keintiman
serta kepuasan seksual dalam pernikahan.
"Kondisi semacam ini lebih sering terjadi pada pria meski wanita juga bisa mengidap kecanduan yang sama," catat Dr. Betchen.
Menurut
Dr. Betchen, seperti halnya pecandu alkohol atau narkoba, langkah
pertama untuk mengatasi kondisi ini adalah mengakui jika orang yang
bersangkutan memang punya masalah kecanduan tersebut. "Atau jika ingin
membantu pasangan, cobalah mengidentifikasi penyebab kecanduan bersama
pasangan. Dengan begitu, si pecandu bisa lebih mengontrol perilakunya,"
tambahnya.
Dalam hal kecanduan seks, Dr. Betchen pun menekankan
agar pasien menghindari berbagai aktivitas seksual terlebih dulu,
termasuk masturbasi dan berhubungan intim dengan pasangannya selama
kurun waktu tertentu, misalnya 30-90 hari.
"Pasien juga bisa ikut
terapi kelompok dimana pasien diminta mengekspresikan perasaannya dan
belajar menghadapi emosi negatif (yang mendasari kecanduan) dengan cara
yang benar," imbuhnya.
Jakarta, Masalah yang terjadi di atas ranjang belum
tentu dapat diselesaikan dengan komunikasi atau bantuan alat tertentu
saja. Terkadang jasa terapis seks juga diperlukan. Namun mungkin tak
banyak pasutri yang tahu masalah 'ranjang' apa saja yang perlu mereka
bawa ke terapis.
Untuk lebih jelasnya, simak tujuh masalah
ranjang yang kerap dialami pasutri dan dapat diatasi dengan bantuan
terapi menurut rekomendasi para pakar, seperti dilansir Woman's Day,
Selasa (15/10/2013) berikut ini:
1. Libido rendah"Hasrat
bercinta/libido yang rendah atau Hypoactive Sexual Desire Disorder
merupakan masalah seksual yang paling sering dibawa ke terapis. kondisi
ini lebih sering dialami oleh wanita, meski tak menutup kemungkinan bagi
pria untuk mengalami hal serupa," ungkap Stephen Betchen, DSW, salah
seorang terapis bersertifikat.
Namun penulis buku Magnetic
Partners itu juga menekankan sebenarnya kondisi ini sulit disembuhkan,
kecuali jika penyebabnya sudah diketahui.
Selain masalah
kesehatan, mulai dari ketidakseimbangan hormon, hipotiroidisme, tumor
pada kelenjar pituitari, dialisis ginjal serta konsumsi antidepresan
maupun stimulan, rendahnya hasrat seks juga bisa disebabkan oleh alasan
psikologis dan emosional. Jika penyebabnya sudah diketahui, kondisinya
pun lebih mudah disembuhkan.
2. Gairah seks yang tak seimbang
Mungkin Anda ingin berhubungan intim setiap malam, tapi suami merasa
beberapa kali dalam sebulan saja sudah cukup. "Sejauh ini alasan lain
yang kerap mendorong pasutri untuk menjalani terapi seks adalah
perbedaan semacam ini, dimana salah satu pihak ingin lebih banyak
bercinta," tandas Miriam Bellamy, LMFT, seorang terapis keluarga dan
pernikahan dari Roswell, Georgia.
Untuk itu hal pertama yang
dilakukan Bellamy adalah membantu pasiennya memahami bahwa normal-normal
saja jika Anda punya pandangan berbeda tentang jumlah hubungan intim
atau jenis seks yang mereka inginkan. Dan konflik di seputar hal ini
bukan karena mereka terlalu berbeda tapi justru karena terlalu dekat.
"Obatnya,
terutama bagi pasangan yang menghabiskan banyak waktu bersama adalah
saling menjauh sebentar untuk menemukan keseimbangan emosi dan
obyektivitas. Misalnya dengan sesekali hangout bersama teman tanpa
suami, ini akan membantu gairah Anda tumbuh kembali," kata Bellamy.
3. Pasangan main belakangKetika
salah satu pasangan berselingkuh, banyak pernikahan yang berakhir pada
perceraian. Tapi bagi pasutri yang memutuskan untuk memaafkan serta
mencoba memperbaiki hubungan akan memperoleh manfaat
nyata dengan terapi seks, karena ini membantu membangun kembali rasa percaya pada pasangan.
Faktanya, banyak terapis yang mengaku perselingkuhan ini adalah alasan teratas pasutri mencari jasa terapis seks.
"Untuk
memperbaiki hubungan, pasangan yang selingkuh harus berhenti
melakukannya dan mengungkap detail berbagai rahasia yang mereka miliki,
misalnya password komputer dan ponsel sehingga pasangan bisa mengecek
keduanya kapanpun mereka mau. Ini diperlukan karena pasangan merasa
dikhianati dan tak bisa mudah percaya lagi. Butuh waktu dan keterbukaan
untuk memunculkan rasa percaya itu lagi," tutur Barbara Bartlik, MD,
psikiater dan terapis seks dari New York City
4. Konflik setelah adanya anakAnak adalah
penguat ikatan kedua orang tuanya, tapi banyak juga pasangan yang
mengeluh keberadaan anak juga telah menghancurkan kehidupan seks mereka.
"Bagi
wanita, perubahan kadar hormon (akibat melahirkan) sering menurunkan
gairah seks mereka, apalagi jika mereka mengasuh anak. Wanita juga
mengalami perubahan bentuk tubuh yang membuat mereka tak nyaman
bercinta. Dan meski kebanyakan pria tetap tertarik pada istrinya,
bagaimanapun bentuk tubuhnya, nyatanya ada juga yang terpengaruh dengan
perubahan bentuk tubuh pasangannya," ujar Scott
Haltzman, MD, psikiater dari Rhode Island.
Menurut
penulis buku The Secrets of Happily Married Men and The Secrets of
Happily Married Women tersebut, kondisi ini dapat diatasi dengan terapi
seks yang membantu membangun kembali koneksi antarpasangan. Jika tidak,
untuk pemula alias orangtua baru, Dr Haltzman menyarankan agar mengunci
pintu kamar sehingga Anda tak selalu merasa cemas jika tahu-tahu si
kecil masuk kamar atau meminta bantuan seseorang untuk mengasuh anak
setiap satu minggu sekali agar Anda bisa berduaan.
5. Susah orgasmeDebby
Herbenick, PhD, dari Indiana University dan penulis buku Because It
Feels Good mengatakan kebanyakan wanita datang ke terapis seks untuk
mengatasi kesulitannya mencapai orgasme.
"Terapis seks biasanya
memberi mereka informasi tentang tubuh wanita sendiri, terutama
klitoris. Pasalnya tak banyak wanita yang tahu tentang klitoris itu
sendiri dan bagaimana mudahnya bagian tubuh ini dirangsang dengan posisi
seks tertentu, misalnya," terang Dr Herbenick
6. Rasa nyeri saat penetrasiYang pertama
didatangi pasutri untuk mengatasi hal ini tentunya adalah dokter. Namun
banyak juga dokter yang menyarankan pasiennya untuk menemui terapis seks
agar nyerinya bisa mereda.
"Terkadang penyebabnya adalah kondisi
medis seperti vulvodynia and lichen sclerosus tapi bisa juga karena
perilaku tertentu. Dengan mengetahui penyebabnya, terapis seks dapat
memberikan saran seperti foreplay lebih lama karena aktivitas ini dapat
meningkatkan lubrikasi vagina dan memperbesar lubang vagina agar dapat
mengakomodasi penis pasangan; menggunakan pelicin; atau mencoba posisi
seks tertentu seperti woman on top yang memberi wanita kendali utama
saat berhubungan," saran Dr. Herbenick.
Terapis seks juga bisa
membantu pasutri untuk memperbaiki komunikasi, terutama dalam
mengkomunikasikan bagaimana rasa nyeri saat penetrasi dapat mempengaruhi
hubungan mereka. Termasuk memberi solusi, misalnya mendorong pasangan
mempertimbangkan variasi dalam bercinta, seperti posisi seks atau
penggunaan mainan seks.
7. Konsumsi pornografi dan kecanduan seksualKecanduan
seks ada beragam, misalnya kecanduan pada pornografi, seks virtual di
komputer, masturbasi dan hal-hal lain yang dapat menghancurkan keintiman
serta kepuasan seksual dalam pernikahan.
"Kondisi semacam ini lebih sering terjadi pada pria meski wanita juga bisa mengidap kecanduan yang sama," catat Dr. Betchen.
Menurut
Dr. Betchen, seperti halnya pecandu alkohol atau narkoba, langkah
pertama untuk mengatasi kondisi ini adalah mengakui jika orang yang
bersangkutan memang punya masalah kecanduan tersebut. "Atau jika ingin
membantu pasangan, cobalah mengidentifikasi penyebab kecanduan bersama
pasangan. Dengan begitu, si pecandu bisa lebih mengontrol perilakunya,"
tambahnya.
Dalam hal kecanduan seks, Dr. Betchen pun menekankan
agar pasien menghindari berbagai aktivitas seksual terlebih dulu,
termasuk masturbasi dan berhubungan intim dengan pasangannya selama
kurun waktu tertentu, misalnya 30-90 hari.
"Pasien juga bisa ikut
terapi kelompok dimana pasien diminta mengekspresikan perasaannya dan
belajar menghadapi emosi negatif (yang mendasari kecanduan) dengan cara
yang benar," imbuhnya.